Bumbuku, Rasa Bawang..
Wednesday, September 24th, 2008Ada yang bilang kalau demonstrasi itu adalah bumbu dari demokrasi.
Layaknya merica pada kue bolu..
Sama halnya juga seperti lalat pada seonggok tai..
Eh.. sepertinya ada pengandaian yang salah.. ![]()
(Tapi, siapa peduli..)
Begitu juga seperti basa – basi pada kehidupan sosial kita.
Basa – basi itu seperti bumbu.
Jika bumbunya tepat, maka masakan akan menjadi enak. Sebaliknya, jika bumbu tersebut kurang atau berlebih, masakan akan menjadi tidak enak.
Orang yang pandai berbasa – basi akan lebih cepat mengakrabkan diri dengan lingkungan sosialnya. Otomatis, hubungan baik pun akan lebih cepat terjalin.
Saya sendiri bukan orang yang pandai berbasa – basi. Oleh sebab itu, orang – orang yang baru mengenal saya, biasanya langsung beranggapan:
“Gile, nih orang perutnya buncit banget…”
Eh, salah… Maksud saya anggapannya seperti ini:
“Buset.. Sengak banget sich..!”
Mau bagaimana lagi.. Karena khawatir lawan bicara tidak merasa nyaman dengan cara basa – basinya saya yang tidak terlalu pintar, lebih baik saya memilih diam alias tidak terlalu banyak berbicara. Setidaknya untuk mencegah terjadinya situasi – situasi sedikit basi seperti yang saya alami dibawah ini.
Saat itu hari minggu, dimana kebanyakan keluarga di Jakarta akan menghabiskan waktunya di luar rumah, baik berbelanja atau berekreasi. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Dengan pakaian super-kasual, saya dan Istri melangkahkan kaki dari rumah menuju mobil. Pada saat membuka pintu mobil, seorang yang sangat ramah berbasa – basi sambil bertanya:
“Jalan – jalan sama Istri ya…?”
![]()
“Oh, ngga sich.. Ini.. Saya cuma mau berak di dalam mobil sambil ditonton Istri..”
Hari lainnya, di suatu sore.
Dengan bercelana pendek dan kaos oblong butut, saya pun siap mencuci mobil yang sudah lumayan kotor. Selang air sudah tersedia. Saat air pertama menyemprot badan mobil, lagi – lagi seorang yang sangat ramah berbasa – basi sambil bertanya:
“Nyuci mobil…?”
Astaga… ![]()
Selang air… Sedang menyemprot badan mobil.. ![]()
“Ngga.. Cuma hobby megangin selang doang..”
Atau di kesempatan lain. Saya berjalan sambil membawa plastik berisi sampah yang memang jelas sekali terlihat berisi sampah. Dimana saya pun berjalan menuju tempat sampah yang bentuknya benar – benar seperti tempat sampah. Memang lingkungan kita sangatlah ramah sehingga ada yang berbasa – basi sambil bertanya:
“Ngebuang sampah…?”
Duh…
Lagi – lagi…
Toloooooooooooooong….!! ![]()
Get Firefox!
Get Thunderbird!
no-www
WordPress