Archive for June, 2008

Lagi – Lagi Ciuman…

Tuesday, June 24th, 2008

Menonton film melalui media VCD atau DVD adalah aktivitas akhir minggu yang sering Saya lakukan bersama Istri. Maklum, selain malas bermacet – macetan di jalan raya Cibubur untuk pergi ke mall, aktivitas tersebut adalah yang paling murah dibanding yang lain.

Mengemban amanat dari Maspion untuk mencintai produk – produk Indonesia, maka film – film Indonesia lumayan banyak yang kami sewa. Oh ya, Saya punya produk rice cooker dari Maspion juga lhoo… (Terus kenapa? :-/ )

Saya jadi ingat era 90-an. Saat itu, film – film dengan judul seperti Ranjang Panas, Gairah Malam, Pantat Korengan (yang ini hasil mengarang.. :P ), dan lain sebagainya beredar di berbagai bioskop.

Oh, menyenangkan sekali.
Saya bahkan menyisihkan uang saku dan rela tidak jajan gorengan bakwan serta teh manis pada saat istirahat siang, hanya untuk menonton film – film tersebut. (Mama, maafkan Saya…)
Walaupun, akhirnya tidak kesampaian juga untuk menonton karena uangnya di palak oleh preman – preman di depan bioskop dan Saya harus pulang dengan jalan kaki.

Anyway… Kenapa ya, film – film Indonesia sekarang makin sering dibumbui dengan adegan ciuman?
Sepertinya ciuman ini jadi ngetren sekali. Kalau tidak ada adegan ciuman filmnya jadi tidak heboh. Lalu berlanjut ke adegan striptease. Kemudian adegan coitus.

Maksud Saya adalah, dengan melihat tema – tema dewasa beserta bumbu – bumbunya yang diusung oleh praktisi – praktisi perfilman kita sekarang, tidak menutup kemungkinan akan muncul kembali film – film seperti era 90-an. Dan bahkan, lama – kelamaan akan muncul film – film Indonesia dengan rating ‘R’. Menyenangkan sekali.

Tipikalnya, film – film tersebut dibintangi oleh orang – orang yang cenderung sama, alias bintang langganan seperti Sally Marcelina, Lisa Chaniago, Ibra Azhari, dan lain sebagainya. Nah, kira – kira siapa yang akan menjadi bintang langganannya untuk era saat ini? Ntah lah.

Kenapa Tidak Boleh?

Tuesday, June 17th, 2008

Di salah satu bandara di Indonesia.

Security: “Pak, korek api tidak boleh masuk bandara!”
Saya: “Oh.. Peraturan baru yah..? Tapi di dalam masih ada smoking area khan?”
Security: “Ya, tapi korek apinya tetap gak boleh masuk.”
Saya: “Kenapa tidak boleh?”
Security: “Peraturannya memang begitu…”

Salah satu hal yang paling tidak Saya sukai adalah jika orang menjawab tidak sesuai pertanyaan.
Hal lainnya adalah jika ada yang menjalankan/ mengerjakan sesuatu tanpa tau alasannya.

Kejadian diatas adalah salah satu contoh tidak adanya komunikasi yang baik antara pembuat kebijakan dengan pihak eksekutor.
Lucu juga.
Kok mau – maunya eksekutor mengerjakan sesuatu tanpa tau tujuan dan alasannya.
Kita seharusnya memakai prinsip anak kecil.

“Hei, Budi…! Jangan ngupil pakai jempol kaki…!”

Sebagai anak kecil, Budi biasanya bertanya:

“Kenapa tidak boleh?”

“Karena nanti tulang panggul bisa keseleo dan lubang hidung kamu jadi super besar..”

Nah, kenapa korek api tidak boleh dibawa kedalam bandara?
Saat ini, alasan yang masuk akal untuk Saya adalah karena korek api gas bersifat pressurized. Container yang tidak cukup kuat menahan tekanan saat di dalam pesawat, dapat menyebabkan terjadinya letupan kecil.

Alasan lain, mungkin untuk mencegah kejadian berikut:

“Serahkan pesawatnya dan ikuti perkataan Saya…! Atau rambut wanita ini Saya bakar…!”
*Kyaaaaa… Kyaaaaa… Dan semua orang mulai berlarian panik di dalam pesawat.*