Archive for August, 2006

Wisuda yang Ceria dan Mengasyikkan.. Seandainya..

Friday, August 18th, 2006

Tanggal 15 Agustus 2006 lalu, Saya wisuda.
Hmmm.. Pengunaan yang benar yang mana yah..? di wisuda, atau wisuda saja..?
Wisuda.. Kata kerja atau…?

Hmmhh… Baiklah, Saya ganti saja menjadi :

Tanggal 15 Agustus 2006 lalu, Saya mengikuti acara wisuda.
Menyenangkan memang.. Tapi tidak terlalu.

Dimulai dari sehari sebelumnya, Saya mendiskusikan jadwal acara dengan Ibu Saya yang datang dari luar kota.

Ntar besok Yo (Saya) berangkat dari rumah jam 06.00 WIB. Trus Mama nyusul sekitar jam 07.30 WIB yah.. Jangan telat. Soalnya ntar ngga kebagian tempat duduk. Trus ada kemungkinan Mama bakalan dudk di luar dan ngeliat acara wisuda dari TV 14 inch.

Sedikit kaget dan kesal, Ibu Saya langsung menanggapi :

Hah..?! Masa Mama jauh – jauh datang cuma untuk ngeliat wisuda dari TV…? Yang bener aja…?!

Ya, mau gimana lagi. Mungkin tempatnya tidak muat untuk menampung sekian banyak peserta..
Mungkin..
Atau memang tata ruangnya yang tidak terlalu bagus..
Mungkin.

Bagi Saya yang baru pertama kali mengikuti wisuda, dan tidak pernah bertanya ke orang lain mengenai acaranya, wisuda ini lumayan membosankan.
Terbukti dari beberapa kali Saya tertidur pulas dan jadi bahan tertawaan teman – teman, sampai dengan menerima ijazah dengan muka suntuk karena menunggu giliran yang lumayan lama.

Satu – satunya hal yang membuat suasana ceria di saat acara wisuda adalah aksi Juper dan kamera telepon genggamnya yang mem-foto orang – orang yang tertidur pulas di sekitarnya, walaupun dia tidak kenal dengan orang – orang tersebut…
Hasil foto tersebut tentu saja ditunjukkannya dengan bangga ke Saya dan teman – teman.
Kurang ajar memang. Tapi menyenangkan.. Hahahaha.. :))

Ngomong – ngomong soal wisuda, Saya jadi ingat kalau Saya belum mengembalikan toga.
Sial..!

Pos Ronda.

Monday, August 7th, 2006

Sebelumnya Saya memang pernah membahas tentang perjalanan hidup dan di analogikan sebagai Pos Kedua dalam suatu pendakian gunung. Untungnya, postingan kali ini sama sekali bukan mengenai analogi tentang sesuatu hal. Walaupun sama – sama berkaitan dengan suatu Pos atau tempat persinggahan sementara, tetapi pos ronda yang ditulis disini adalah murni mengenai pos ronda.

Apa itu pos ronda?
Bagi anda yang tinggal di belahan dunia lain dan tidak ada aktifitas ronda, silahkan membaca asumsi berikut.

Asumsi

Ronda adalah suatu aktifitas penjagaan suatu area/ kawasan oleh warga sipil dengan cara patroli, dan biasanya dilakukan pada malam hari.

Pos ronda adalah suatu tempat persinggahan bagi orang yang melakukan ronda.

Lalu, apa yang membuat pos ronda begitu menarik untuk ditulis di blog ini..?
Tidak ada yang menarik.
Sebenarnya, Saya hanya ingin menambah jumlah postingan, dan berupaya membuat postingan baru sehingga anda tidak kecewa saat mengunjungi blog ini. :D

Ah, tidak.. Tidak.. Saya hanya bercanda. ;))

Beberapa hari yang lalu, Saya berjalan – jalan melewati perkampungan dan kebetulan melihat beberapa pos ronda mereka. Tampaknya, pos ronda ini telah memiliki standar desain tersendiri. Sepetak bangunan yang tidak lebih dari ukuran 4 x 4, tempat yang tidak terlalu nyaman, dan sebuah alarm tradisional seperti kentongan atau semacamnya.

Tahukah anda? Pos ronda di desain untuk tidak terlalu nyaman agar para peronda merasa tidak nyaman untuk tidur di dalamnya. Oleh sebab itu, kita tidak akan pernah menemukan seonggok kasur di dalam pos ronda tersebut.

Nah, di situlah susahnya membangun sebuha pos ronda. Jika dibangun tidak nyaman, maka peronda akan malas untuk menggunakannya. Dan jika dibangun terlalu nyaman, maka penggunaannya menjadi tidak efektif karena akan digunakan untuk tidur.
Seperti pasir, jika digenggam terlalu kuat, maka pasir tersebut akan jatuh. Begitu pula jika di genggam terlalu renggang, pasir tersebut pun tentu saja akan jatuh.
Hah..?! Lagi – lagi analogi..
Shoot…! Too much analogy in this blog… :(

Wingko Babat, Aspek – Aspeknya, Serta Kaitannya Dengan Blok Ambalat

Monday, August 7th, 2006

Awalnya, saat mendengar kata wingko babat, yang terbesit di pikiran Saya hanyalah sebuah makanan dan aktifitas memakannya. Dan Saya tidak cukup penasaran, tidak cukup baik hati, tidak cukup bijaksana untuk mencari dari mana asal kata wingko babat tersebut.
Ya.. Tentu saja. Seperti biasanya, perut buncit Saya ini menghambat suatu getaran stimulasi ke otak untuk merangsang saraf keingintahuan tentang asal muasal makanan.. Sampai tiba – tiba muncul suatu diskusi mengenai wingko babat, dan Saya tercengang karenanya.

Jika dipikir kembali, kenapa sich Saya tidak penasaran sebelumnya dengan wingko babat? :-/
Padahal jelas – jelas tidak ada babat sama sekali di makanan wingko babat ini. Yang ada hanya ketan dicampur dengan parutan kelapa.
Kemana babatnya..?! Apakah babat – babat ini di korupsi saat proses produksi..?? :o
Kalau begitu, apakah nama Saya akan melambung dan masuk di surat kabar, majalah, dan televisi karena memecahkan kasus korupsi wingko babat?! B-)
Sayangnya tidak.
Kasus wingko babat gate tampaknya hanya akan menjadi impian Saya karena sebenarnya babat tersebut tetap disana dan tidak kemana – mana. Kata babat pada wingko babat ternyata berasal dari kata Babatan, yaitu sebuah daerah dimana wingko ini berasal.
Lalu, kenapa namanya tidak wingko babatan saja..?
Dengan IQ 97 yang Saya miliki, alternatif jawaban dari pertanyaan diatas dapat ditinjau dari berbagai aspek.

  1. Aspek penghematan biaya
  2. Berdasarkan penelitian yang Saya lakukan, pengurangan akhiran ‘an’ pada kata wingko babatan hingga menjadi wingko babat dapat mengurangi biaya percetakan menjadi tinggal 68%-nya saja.

  3. Aspek pemasaran
  4. Seperti kita ketahui bersama, jumlah orang yang vegetarian lebih sedikit dari yang tidak. Oleh sebab itu, wingko yang terbuat dari ketan dan kelapa ini, perlu sedikit ‘bumbu’ yang berbau daging. Pencinta makanan berbau daging seperti Saya tentu tergiur sekali untuk membeli makanan dengan label babat tersebut.

  5. Aspek perkembangan jaman
  6. Alangkah baiknya jika Branding atau penentuan merk suatu produk mengikuti perkembangan jaman. Seperti kita ketahui, di jaman ‘gaul‘ seperti sekarang ini, penyingkatan kata sangat marak dilakukan.. Contohnya seperti kata ‘tidak’ disingkat menjadi ‘tdk’, kata ‘banget’ disingkat menjadi ‘bgt’. Oleh sebab itu, agar wingko babatan tetap exist di kalangan muda – mudi, maka kata wingko babatan disingkat menjadi wingko babat.

    Dengan melakukan pola analisis yang sama, Saya jadi berpikir asal daerah dari makanan dengan nama sate ambal. Jangan – jangan, sate ini berasal dari Blok Ambalat. Jika ya, tentu saja makanan ini tidak terlalu sehat karena mengandung banyak minyak. Dan tentu saja, sate ini pasti mahal karena tergolong makanan yang di impor dari Malaysia.

    Well, setelah pembahasan omong kosong diatas, Saya masih sangat bersyukur bahwa wingko berasal dari babatan.
    Coba bayangkan jika wingko berasal dari Palembang. Namanya akan menjadi wingko palem, dan orang – orang akan menyangka bahwa wingko ini mengandung pohon palem.
    Atau lebih berbahaya lagi jika wingko berasal dari Zakarta. Namanya akan menjadi wingko zakar, dan orang – orang akan menyangka bahwa wingko ini mengandung …..

    :D