Archive for the ‘Food’ Category

Nasi Padang dan Nasi Kapau

Monday, September 7th, 2009

Taukah anda bahwa sebenarnya nasi padang dan nasi kapau itu berbeda?
Ya, saya juga baru tau.. :D

Sama halnya dengan sate padang pariaman dengan sate padang (biasa), nasi kapau dengan nasi padang (biasa) juga berbeda dalam hal rasa. Nasi kapau yang berasal dari suatu daerah bernama Kapau ini lebih terasa bumbunya dan lebih menggigit alias lebih pedas.

Cara membedakan antara nasi padang (biasa) dan nasi kapau sebenarnya cukup mudah.
Yang pertama kali dan merupakan cara yang paling efektif (menurut saya) adalah lihat nama Rumah Makannya. Jika namanya Rumah Makan Padang Restu Bundo, artinya rumah makan tersebut adalah rumah makan padang. Nah, jika namanya Rumah Makan Nasi Kapau Restu Bundo, tentunya rekan – rekan semua sudah bisa menebaknya bukan.

Astaga… Tipsnya kok kurang bermutu ya…? =))

Jika tips pertama merupakan cara yang paling efektif, maka tips kedua ini merupakan tips yang paling mudah untuk dilakukan. Cara membedakan antara nasi kapau dan nasi padang (biasa) adalah….. dengan menanyakan langsung ke pelayannya, “Pak, ini nasi kapau atau nasi padang..?” =))
Dari jawaban sang pelayan, tentunya rekan – rekan semua sudah bisa menebaknya bukan.

Lagi – lagi tips yang tidak bermutu… :))

Tips ketiga ini yang mungkin lebih bermanfaat dibanding kedua tips diatas. Cara paling pintar untuk membedakan nasi padang (biasa) dan nasi kapau adalah dengan cara melihat sayur lodeh-nya. Jika sayur lodeh atau sayur nangka tersebut menggunakan kol atau rebung ditambah kacang panjang, maka kemungkinan besar itu adalah nasi kapau. B-)

Mari makan… Eh… Ternyata masih puasa.. :D

Kornet?

Wednesday, May 27th, 2009

Bukan.. Kornet yang akan kita bahas bukanlah nama warung internet. Tapi makanan yang biasa disebut kornet.

Pernah makan kornet khan?

Itu tuh.. Daging yang dipadatkan di dalam kaleng dan biasa dijual di supermarket. Cara mengolahnya tergantung selera. Bisa digoreng biasa dan dijadikan lauk – pauk, atau pun sebagai campuran pada masakan lainnya seperti nasi goreng, tumis – tumisan, dan lain sebagainya.

Sebenarnya, dari mana sich terminologi kornet berasal?
Ternyata terminologi kornet berasal dari jenis produk daging yang dikalengkan dan disebut “corned beef“. Bisa menjadi “kornet” bukan karena para orangtua kita yang tidak bisa membaca bahasa inggris. Tapi kurang lebih karena pengaruh orang – orang Belanda yang melafalkan corned beef dengan “kornet bif” (kôrn-net bi:f). Akibatnya, sampai generasi saya pun memakai terminologi kornet.

“Ngga ada lauk nih… Digorengin kornet aja ya…”

Oke, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah… Kenapa corned beef? Kalau memang dagingnya dikalengkan, kenapa tidak menyebutnya canned beef?

Tidak lain dan tidak bukan karena pemrosesannya. Daging yang terkandung di kemasan corned beef telah diasinkan sebelumnya atau proses semacamnya yang saya sendiri tidak begitu paham. Maklum, karena result oriented, yang saya tau hanya memakannya; bukan cara membuatnya. :D

Disebut corned karena proses pengasinannya dilakukan dengan butiran – butiran garam yang menyerupai jagung (dalam bahasa inggris: corn)..

Sebagai informasi tambahan, tidak hanya daging saja yang diproses dan dikemas seperti ini. Sosis juga ada dan disebut corned dog

Semoga informatif… :P

Sardencis Ceria

Wednesday, May 30th, 2007

Sardencis.. Sardines.. atau sarden..
Ntah lah..
Yang Saya maksud adalah ikan sarden atau makarel kalengan.

Bila langsung dihangatkan dan dimakan, mungkin rasanya biasa.
Tapi bila ditambahkan bumbu – bumbu dan lain sebagainya, rasanya lumayan juga.

Sardencis
Gambar diambil dari : http://flickr.com/

Caranya gampang. Siapkan:

  • Satu kaleng Sarden
  • dua siung bawang putih
  • setengah siung bawang bombay
  • dua buah cabe merah
  • garam secukupnya
  • gula secukupnya; dan
  • satu sendok makan margarine

Bawang putih yang telah disiapkan dicincang halus. Kemudian, bawang bombay dan cabe merah diiris tipis – tipis. Lalu, panaskan satu sendok makan margarine sampai mencair, dan tumislah bawang putih, bawang bombay, dan cabe tersebut sampai harum.

Tuangkan saus dari kaleng sarden beserta gula dan garam kedalam tumisan, aduk sampai rata. Silahkan dicicip. Bila rasanya sudah pas, campurkan ikan (dari kaleng) ke dalam saus yang kita cicip tadi. Aduk perlahan agar daging ikan tidak hancur.

Setelah masak, sajikan Sarden di sebuah piring cantik.
Antarkan ke tetangga – tetangga sebelah rumah.
Pulang ke rumah, duduk di depan TV, dan bercandalah dengan ceria bersama Sang Istri.

Sekian resep Sardencis Ceria.

Moyang Kita Seorang Pelaut

Friday, January 5th, 2007

Pelaut

nenek moyangku orang pelaut
gemar mangarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

Lagu Pelaut ciptaan Ibu Sud tersebut memang benar adanya.
Moyang kita memang seorang pelaut. Bahkan, auranya masih terasa sampai sekarang. Hal tersebut telah Saya buktikan sendiri dua hari yang lalu!

Sore itu, dengan perut lapar Saya melangkahkan kaki dengan semangat ke sebuah Warteg di belakang kantor. Berikut adalah kutipan percakapan Saya (R) dengan Penjaga Warteg (W) yang membuktikan keabsahan lagu diatas.

R : “Makan, Mbak..”
W : “Makan disini atau dibungkus, Mas..?”
R : “Disini aja..”

*W lalu menuangkan nasi ke dalam piring Saya dan bertanya..*

W : “Mau pake ikan apa..? Ini ada ikan ayam, ikan daging, sayur bla bla bla..”

R : *pingsan*

Q : So, where do you want to go today?
A : Fishing..

Srikaya Nyam Nyam

Friday, January 5th, 2007

Dari lahir sampai sekarang, baru sekali Saya mencoba memakan buah srikaya, dan itu adalah kemarin! Sebelum kemarin, Saya bahkan tidak tau kalau buah tersebut dapat dimakan. Karena konturnya yang aneh dan lembut, buah srikaya adalah salah satu buah favorit untuk Saya injak – injak dan jadi bahan lempar – lemparan dengan teman – teman semasa kecil dulu.

Buah Srikaya

Rasa buah ini manis dan lucu. Untuk memakannya memang butuh sedikit perjuangan karena bijinya banyak dan daging buahnya tergolong sedikit, tapi tahukah anda kalau buah srikaya adalah salah satu tanaman obat?

Menurut Portal Iptek, buah srikaya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi diare, disentri akut, dan gangguan pencernaan. Sedangkan bijinya dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pencernaan lemah, cacingan, dan mematikan kutu kepala dan serangga.


Image diambil dari : http://www.bali.cside.com/

Wingko Babat, Aspek – Aspeknya, Serta Kaitannya Dengan Blok Ambalat

Monday, August 7th, 2006

Awalnya, saat mendengar kata wingko babat, yang terbesit di pikiran Saya hanyalah sebuah makanan dan aktifitas memakannya. Dan Saya tidak cukup penasaran, tidak cukup baik hati, tidak cukup bijaksana untuk mencari dari mana asal kata wingko babat tersebut.
Ya.. Tentu saja. Seperti biasanya, perut buncit Saya ini menghambat suatu getaran stimulasi ke otak untuk merangsang saraf keingintahuan tentang asal muasal makanan.. Sampai tiba – tiba muncul suatu diskusi mengenai wingko babat, dan Saya tercengang karenanya.

Jika dipikir kembali, kenapa sich Saya tidak penasaran sebelumnya dengan wingko babat? :-/
Padahal jelas – jelas tidak ada babat sama sekali di makanan wingko babat ini. Yang ada hanya ketan dicampur dengan parutan kelapa.
Kemana babatnya..?! Apakah babat – babat ini di korupsi saat proses produksi..?? :o
Kalau begitu, apakah nama Saya akan melambung dan masuk di surat kabar, majalah, dan televisi karena memecahkan kasus korupsi wingko babat?! B-)
Sayangnya tidak.
Kasus wingko babat gate tampaknya hanya akan menjadi impian Saya karena sebenarnya babat tersebut tetap disana dan tidak kemana – mana. Kata babat pada wingko babat ternyata berasal dari kata Babatan, yaitu sebuah daerah dimana wingko ini berasal.
Lalu, kenapa namanya tidak wingko babatan saja..?
Dengan IQ 97 yang Saya miliki, alternatif jawaban dari pertanyaan diatas dapat ditinjau dari berbagai aspek.

  1. Aspek penghematan biaya
  2. Berdasarkan penelitian yang Saya lakukan, pengurangan akhiran ‘an’ pada kata wingko babatan hingga menjadi wingko babat dapat mengurangi biaya percetakan menjadi tinggal 68%-nya saja.

  3. Aspek pemasaran
  4. Seperti kita ketahui bersama, jumlah orang yang vegetarian lebih sedikit dari yang tidak. Oleh sebab itu, wingko yang terbuat dari ketan dan kelapa ini, perlu sedikit ‘bumbu’ yang berbau daging. Pencinta makanan berbau daging seperti Saya tentu tergiur sekali untuk membeli makanan dengan label babat tersebut.

  5. Aspek perkembangan jaman
  6. Alangkah baiknya jika Branding atau penentuan merk suatu produk mengikuti perkembangan jaman. Seperti kita ketahui, di jaman ‘gaul‘ seperti sekarang ini, penyingkatan kata sangat marak dilakukan.. Contohnya seperti kata ‘tidak’ disingkat menjadi ‘tdk’, kata ‘banget’ disingkat menjadi ‘bgt’. Oleh sebab itu, agar wingko babatan tetap exist di kalangan muda – mudi, maka kata wingko babatan disingkat menjadi wingko babat.

    Dengan melakukan pola analisis yang sama, Saya jadi berpikir asal daerah dari makanan dengan nama sate ambal. Jangan – jangan, sate ini berasal dari Blok Ambalat. Jika ya, tentu saja makanan ini tidak terlalu sehat karena mengandung banyak minyak. Dan tentu saja, sate ini pasti mahal karena tergolong makanan yang di impor dari Malaysia.

    Well, setelah pembahasan omong kosong diatas, Saya masih sangat bersyukur bahwa wingko berasal dari babatan.
    Coba bayangkan jika wingko berasal dari Palembang. Namanya akan menjadi wingko palem, dan orang – orang akan menyangka bahwa wingko ini mengandung pohon palem.
    Atau lebih berbahaya lagi jika wingko berasal dari Zakarta. Namanya akan menjadi wingko zakar, dan orang – orang akan menyangka bahwa wingko ini mengandung …..

    :D

Terima Kasih Yanagi Sushi…

Monday, February 6th, 2006

Berkat mencoba Sushi di Yanagi Sushi (Jl. Gejayan, Yogyakarta), Saya mendapat pelajaran berharga…
Apa…?
Yaitu…
Boker dalam kondisi Mencret Sambil ngerokok memang enak..!

Berkat pengalaman kemarin, sekitar 68% kemungkinan Saya tidak akan kembali ke Yanagi Sushi lagi..
Mari kita kaji..

Pertama – tama… Mereka memberi Saya secangkir cairan. Dan selama 15 menit pertama, Saya mencoba untuk menebak – nebak apakah cairan itu berguna untuk merendam sumpit atau untuk diminum.
(Ternyata itu minuman, yang katanya Teh.. Dan rasanya seperti air putih panas di rendam bambu. Hmmm.. Yummy… My ass…)

Yang kedua, mereka memberi Tampon yang ditaruh diatas piring datar yang berbentuk kotak. Can you imagine that…?? Tampon di taruh diatas meja… while we’re eating…?!
(Ternyata kemudian Saya tau bahwa fungsinya untuk me-lap tangan, muka, atau apa saja…)

Yang ketiga… Astaga… Saya tersentak kaget saat melihat dingklik yang sering digunakan oleh Tukang Cuci di rumah untuk mencuci baju, terletak diatas meja… fungsinya? digunakan untuk alas Sushi *faint..*
(Untunglah sebelumnya, tidak ada orang Indonesia yang duduk diatasnya…)

Keempat… Saya membutuhkan Tumis Ban Bekas Sambel Terasi + Tendangan di pantat untuk menyatakan bahwa cumi – cumi mentah itu enak…
(Ternyata, nasehat Nenek agar mengunyah makanan minimal 30 kali itu memang benar… Jika tidak, cumi – cumi mentah yang dagingnya hambar dan alot sekali itu, akan keluar dengan bentuk yang sama dari pantat Saya…)

Dan kepala pusing, infeksi perut (mencret2x) pada pagi harinya cukup menjadi alasan ke lima…

Hmmm… Sekian reviewnya. Saya mau ke Rumah Makan Padang dulu…

Found! A New Spot On Jogja..

Thursday, December 8th, 2005

Nemu tempat makan yang baru di Jogja, recently! Namanya Gubug Resto, berlokasi di Blok O (Sebelah sananya jembatan layang Janti or whatever you named it..)

Well, actually… Saya kesana beberapa minggu yang lalu, hanya baru bisa posting sekarang karena tidak sempat men-transfer fotonya dari HP.

Overall.. It’s a cool place to eat.. Tempatnya yag jauh dari keramaian, memang cocok sekali buat kita yang ingin berekreasi sambil mengenyangkan perut.
Konsepnya seperti tempat kolam pemancingan (dengan kolam ikan di tengah Resto), dan gubug – gubug mini mengelilingi kolam tersebut.
Makanannya enak, dan Saya pribadi merekomendasikan Gurame Asem Manis sebagai menu favorit.
Pelayanannya memuaskan, cepat, dan tangkas…

Di tempat ini, selain menikmati makanan, kita juga dipaksa untuk berolahraga tangan atau senantiasa bergerak untuk mengusir lalat – lalat yang ada. Yup, sayangnya di tempat ini jumlah lalatnya lumayan banyak! Entah dipelihara untuk menjadi salah satu daya tarik tempat ini, Saya juga kurang begitu tau..
Dan terus terang, tempat ini menjadi jauh tidak menarik di saat hujan. Konstruksi atapnya kurang melindungi kita dari percikan – percikan air hujan yang tentu saja mengganggu kenyamanan.

But still, gue masih berpikiran bahwa tempat ini adalah salah satu tempat enak untuk dikunjungi (terutama bersama keluarga).

Well.. I’ve taken a few pictures with my cellphone, and here it is..

Gubug Resto..
kolamnya tepat berada di tengah – tengah.

Pose samping.
Kolamnya terlihat dari sini. Ofcourse.. it’s right in front of your nose..

(ki-ka) Eko, Gue, dan Redo
Me with friends. (ki-ka) Eko, Gue, dan Redo.

Sahur Yang Benar – Benar Sahur…

Wednesday, November 2nd, 2005

Saat pulang ke Palembang kemarin (31 Oktober 2005), Saya merasakan sahur yang benar – benar sahur.
Bagaimana tidak, walaupun hanya sempat merasakan sahur 2 hari saja, hari pertama (31 Oktober 2005) dibuka dengan cucumber salad dan langsung diisi dengan menu rendang limpa dan hati, serta gulai otak. Hari kedua (1 November 2005) langsung ditambah dengan gurame goreng dan terung goreng sambal. Fiiiuuuuhhh…

Tentunya, tulisan ini dibuat dengan perut yang kenyang sekali. Sempat terpikir juga, “Akankah rekor berat badan naik 10 kg gara – gara pulang kampung seperti tahun 2003 kemarin terpecahkan..?” Wow, gawat sekali! Jangan – jangan Si Cinta jadi tidak cinta lagi.. Hahaha…

Hmmmm…
Memang terasa sekali yah, bedanya jika kita hidup merantau di kota lain..?
Khususnya soal atmosfir rumah dan makanan.
Apalagi lidah Saya termasuk tipe lidah rumahan, alias makanan di rumah adalah makanan paling lezat.

Mungkin, hal – hal seperti diatas turut dirasakan oleh sebagian besar orang Indonesia yang sedang dirantau. Pantas saja mudik (pulang kampung) menjadi suatu momen tradisi dari tahun ke tahun yang selalu dinantikan. Ya.. Termasuk Saya..
Momen tersebut memang selalu jadi momen yang sangat Saya nantikan setiap tahunnya.

Espresso..? Sure… Salah Pesan…? Yup..!

Tuesday, October 4th, 2005

Kyaa..!
Ada kejadian lucu malam ini… :D

Btw.. Do you Guys know what an Espresso is…?
Espresso
Good…! ‘Cause one of my friends don’t…
(But, if you don’t then… Read..!)

“Yang pesan Espresso…?”, kata salah seorang pelayan yang membawa minuman kami.
Me and the Guys just look at each other dengan bingung…
I mean… Who’s gonna drink an Espresso while having a Steak or Pasta…?
Then, Arief Laksito, One of my friends, menjawab “Errr… Aku yang pesan…”
*Menjawab dengan muka bingung karena melihat Gelas yang begitu kecil yang berisi Cairan hitam pekat (Coffe)..*
Saat itu juga, I can tell that dia salah pesan…!
Tepat setelah pelayannya pergi, gue langsung bilang, “Pasti loe salah pesan…!! Hahahahaha….”
*and then the others starts laughing…*

“Kok bentuknya kaya’ gini yah…?”
“Ya emang gitu…! Makanya… Tanya dulu…!”, jawabku sambil ketawa….

And the funny thing is… Sambil nahan pahit, He’s still drink it…! With a Spoon…!
You could’ve just ask me about it…!
Atau tanya pelayan nya…. :D

Well… Here is some tips for you Laks, supaya loe ngga salah2x pesan lagi…
1. Read the Menu

Biasanya, di setiap menu disediakan keterangan tentang isi dari item yang dapat dipesan.

2. Ask Your Friends about it!

Siapa tau temen kamu tau mengenai item yang akan dipesan, so… Tanya doooong…!

3. Ask the Waiter/Waitress

Don’t you know that we pay for the service…? Jadinya ngga perlu malu khan…?

Wakakakakaka…
Actually… It’s not that funny… It’s not a re-tell story…
Laksito My Bro...!
So… Thank you for the good laughs, Bro…! :D